Surau Nagari, tempatku mengaji dan belajar agama
Mendarat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kemudian melakukan perjalanan kearah Solok melewati Padang Panjang. Maka kita akan melewati sebuah kenagarian yang bernama Batipuh Baruh. Nagari Batipuh Baruh terletak di kaki gunung Marapi yang berjarak 7 km dari kota
Padang Panjang. Di jorong bernama Lubuak Bauak terdapatlah sebuah surau tua 4 tingkat yang terbuat dari kayu. Surau ini merupakan tempat yang amat spesial bagi diriku. Disurau inilah untuk pertama kali aku diajar mengaji oleh Uak Pakiah yang sudah cukup tua tapi mempunyai semangat yang tinggi. Kemampuan beliau jangan ditanya, apalagi metode yang digunakan Uak Pakiah dalam mengajar diriku dan teman-teman yang lain membuat kami tidak pernah lupa apa yang diajarkannya. Setiap berdiri beliau selalu membawa sebilah rotan yang digunakan untuk menunjuk huruf-huruf hijayah yang telah ditulis dipapan tulis.Tulisan arab Uak Pakiah sangat bagus sekali, sangat menyenangkan bagi orang yang membacanya. Setiap malam Kamis, kami disuruh menghapal-hapal kembali bacaan shalat, bacaan shalat ini dipandu oleh Uda atau Uni yang tingkat “kaji”nya telah berada diatas diriku dan teman-temanku. Kegiatan mengaji dimulai setelah shalat magrib, ketika azan maghrib telah dikumandangkan, Amak atau Apa akan segera menyuruhku untuk segera bersiap-siap menuju mesjid, juga kepada Uni, Uda dan adik-adikku. Mesjid tidakseberapa jauh tempatnya dari rumahku, cukup dengan berjalan 5 menit saja, sampailah aku di teras mesjid Ula yang letaknya bertetangga dengan Surau Nagari. Setibanya dimesjid, kami yang masih kecil-kecil berada pada shaf kedua, tidak dibolehkan berada pada shaf pertama. Setelah itu pindah dari mesjid kesurau. Mesjid digunakan sebagai tempat shalat, sedangkan surau digunakan untuk tempat mengaji. Surau nagari masih menampakkan kegagahannya ditengah usia yang semakin tua. Surau Nagari tempatku mengaji dan belajar agama masih kokoh berdiri walaupun Uak Pakiah tidak mengajar lagi karena kondisi beliau yang kian renta. Dengan Uak Pakiah lah diriku belajar mengeja huruf hijayah dan mengenal tajwid. Uak Pakiahlah yang mengajarkan diriku beda pengucapan huruf ‘ha’ pada kalimat hayya ‘alal Shalah dan kalimat hayya ‘alal falah. Yang kutahu sekarang Uak Pakiah sudah sering sakit karena ketuaan beliau. Tetapi tetap tegar seperti tegarnya surau Nagari yang tetap kokoh walaupun sering dilanda gempa.
Artikeltu dikutip dari Ranah Minang by Khairul Hamdi di/pada April 7th, 2008